Terjadi sebuah argument seru dirumah Ndoro Kakung. Dan perdebatan seru diberanda pagi-pagi juga melibatkan Ndoro putri, sebenarnya Ndoro Putri tidak mau terlibat jauh-jauh. Namun kuping dan mulutnya gatal juga ketika Parto pembantu plus supir pribadi dirumah Ndoro Kakung ini tidak mau menyekolahkan anaknya. Menurut Parto sekolah itu buang duit dan tidak menghasilkan. Lebih baik uang untuk sekolah dijadikan untuk modal buat warung makan atau wirausaha dibidang lain, misalnya buka cucian mobil atau membuka kios jahit.
“Parto, kamu tega lihat anak kamu yang seharusnya masih dibangku sekolah kamu suruh kerja?” Ndoro kakung memberi gambaran mudah pada Parto yang masih ngeyel dengan ide dan pola pikrinya.
“Ndoro lihat sendiri, dikoran dan diTV pengangguran banyak Ndoro. Mulai dari lulusan SMA sampai Peguruan Tinggi. Sampai hari ini tidak ada perubahan Ndoro. Jadi ngapain Arman harus sekolah kalau cuma lulus nganggur juga.” Parto tetap dengan argument yang memang masuk akal.
“Lho..Lho…. jangan main motong kompas seenaknya To, kamu lihat cuma pakai sebelah mata saja. Banyak yang suskes karna sekolah. Contoh saja anak tukang sayur yang sering jualan didepan rumah ini. Anaknya sukses setelah jadi sarjana. Malahan kerja diperminyakan To. Jadi kamu jangan Ngasal bikin kesimpulan negative tentang jeleknya sekolah.” Ndoro Putri ikut angkat bicara.
“sekolah intu invest jangak apanjang To, pasti kowe bangga kalau Arman jadi sarjana. Anak sopir jadi sarajana terus juga kerja diperusahaan minyak. Pasti atimu bangga, ora koyo nek anakmu dadi kuli bangunan.” Ndoro Putri makin semangat mencramahi Parto.
“Lah kenyataanya satu banding seribu Ndoro.” Parto tetap kekeh dengan argument yang dibangun dari tadi.
“Kamu dapat itungan dari mana To.” Ndoro kakung menatap wajah Parto.
“Lha dari koran tho Ndro juga dari TV, pabrik-pabrik sudah ndak terima lowongan. Juga departemen-departemen pemerintahan juga ndak buka lowongan Ndoro.” Parto kembali menjelaskan apa yang dilihat diTV dan dibaca dikoran.
“Hush. Beritakan Cuma dilebih-lebihkan, biar kita lebih kreatif membangun lapangn kerja. Biar kita sadar dan segera bangun dari tidur.” Ndoro Kakung mencoba mententramkan hati Parto yang sudah jadi korban berita.
“Apa ndak malu, kamu jadi pembantu terus anak kamu Cuma jadi kuli bangunan To.” Ndoro Putri ikut-ikutan nyodok Parto.
“Kalau memang Ndak kuat biaya, biar Arman saya bantu biaya. Tapi harus sekolah.” Ndoro putri mencoba mengakhiri argument dan debat panjang pagi-pagi.
Setelah terjadi perdebatan panjang yang diakhiri dengan keputusan untuk sekolah lagi, Arman esok paginya tercatata kembali menajdi seorang siswa. Setelah diyakinkan sama Ndoro Kakung dan Ndoro Putri bahwa sekolah adalah invest jangka panjang. Jadi metik hasilnya dalam kurun waktu yang cukup lama. Karna Arman harus memasuki jenjang-jenjang yang berlaku untuk masuk dalam dunia kerja yang lebih bonafid.
“To, gimana sekolah anakmu.” Ndoro Kakung bertanya sambil mencolek bahu Parto yang lagi nyetir.
“Rajin Ndoro. Sedikit lagi ujian kelulusan SMA.” Jawab parto
“Wah, anakmu bakalan jadi Mahasiswa To.” Ndoro Kakung mencoba bikin bungah hati Parto.
“Bakalan ikut demo mboten ya Ndoro?” tanya Parto sedikit gundah.
“Lho..lho.. jangan pesimis kaya gitu To, anak mahasiswa teriak-teriak wajar saja. Asal ndak melanggar hukum. Biasalah jiwa anak muda yang suka mendidih. Kaya ndak pernah enom saja kamu To.” Ndoro kakung menenangkan hati Parto.
Arman anak sopir dan pembantu tercatat sebagai mahasiswa tehnik disebuah Universitas negri. Parto bungah bukan main, dulu dilarang-larang sekolah tapi saat Arman masuk diuniversitas bonafid Parto mirip orang kesetanan. Hampir setipa hari Parto cerita tentang anaknya yang sudah mahasiswa. Di pangkalan sopir, sesama pembantu, tukang sayur, juga sama majikannya Ndoro Kakung dan Ndoro Putri.
“Saiki bangga yo To sama anakmu?” Ndoro Putri bertanya sambil duduk menikmati angin semilir diberanda belakang.
“Inggih bangga Ndoro.” Jawab Parto bungah.
“Dulu pesimis, ngelarang anak sekolah. Saiki giliran sudah mulai kelihatan hasil mulai mbungai.” Sindir Ndoro Putri.
“Ya jelas bungah to Ndoro, kata Ndoro ini invest jangka panjang. Lha kalau Arman lulus terus jadi sarjana tehnik dan kerja diperusahaan minyak nama bapaknya ikut keangkat, siapa yang ndak bungah Ndoro.” Jawab Parto semangat.
“Kalau anakmu sudah kerja diperusahaan minyak, kamu pensiun To.” Ndoro Putri bertanya ke Parto.
“Menurut Ndoro?” Kali ini Parto mengembalikan pertanyaan.
“Dapurmu To..Parto.” Ndoro Putri Cuma mesem-mesem sambil lewat.
Hari yang dinanti datang juga, invest jangka panjang akan segera membuahkan hasil. Parto dan Istri sudah bangun dari pukul empat. Mengosok kemejanya selicin-licinya, juga mengosok gigi sebersih-bersihnya. tak lupa menyemprotkan farfum murah banyak-banyak ke kemeja yang digosok licin-licin.
“Hari ini Arman wisuda Bune.” Parto berucap sambil bercermin tanpa menoleh kearah istrinya.
“Sedikit lagi kita pensiun Pakne.” Jawab istri Parto sumringah
“Hidup didesa, sambil nikmatin hari tua ya Bune.” Lanjut Parto
“Lha iyo, sedikit lagi invest jangka panjang kita menghasilkan Pak.” Jawab Istri Parto
“Betul Bune.” Lanjut Parto.
Dua bulan setelah Wisuda, Arman belum juga bekerja. Semua lowongan yang ada di Koran telah dikirimi lamaran. Bahkan ada beberapa yang sudah didatangi langsung. Dan hasilnya masih nihil, Arman sambil nunggu panggilan kerja bantu-bantu bapaknya Parto nyuci mobil Ndoro. Kadang-kadang jadi supir buat Ndoro Putri arisan atau nengok cucunya diluar kota.
“Gimana To, rasanya punya anak sudah jadi Sarjana.” Ndoro kakung melontarkan pertanyaan dimobil.
“Bangga opo Ndoro.” Jawab Parto masam
“Lho..lho. anak sudah jadi sarjana kok ndak bangga.” Ndoro kakung mencoba membuat bungah hati Parto.
“Bener kata saya dulu Ndoro, buat apa sekolah habisin duit. Ndoro sekarang lihat saja Arman, sarjan pengangguran. Inves jangka panjang saya hancur total Ndoro dan tetap saja saya tidak jadi pensiun. Kalau pun jadi pensiun paling-paling Arman yang jadi pengganti saya Ndoro.” Parto berkata pasrah.
“Lho..lho.. kok patah semangat.”
“Ya jelas saya sudah ndak yakin Ndoro, invest jangka panjang saya gagal total. Mendingan uangnya buat modal buka warung makan apo bengekel las. Sekaligus itung-itung ngurangi pengangguran, ndak perlu pusing kirim-kirim lamaran. Coba kalau dipikir-pikir, uang yang buat lamar sana-sini dijadiin modal buat bikin warung baso pasti sudah kebuka.” Jawab Parto sekenanya.
-Jakarta 26 Maret 2011-